Ketika Rumah Radakng Tak Lagi Bernaung

[Foto: Ilustrasi]

Sungai Kapuas mengalir pelan di sore hari, seolah tahu bahwa kampung Tembawang sedang menahan napas. Angin membawa bau kayu basah dan asap dapur. Di tanah lapang bekas Rumah Radakng yang dulu berdiri megah, kini hanya tersisa tiang-tiang patah dan rumput liar.

Janu berdiri di sana, memandang kosong. Telapak kakinya menyentuh tanah yang pernah menjadi lantai bersama puluhan keluarga. Rumah Radakng itu telah dibongkar dua tahun lalu, katanya demi pembangunan, katanya demi kemajuan.

“Kalau kau terus menatap tanah begitu, kau bisa jadi patung arwah,” suara itu datang dari belakang.

Janu menoleh. Laman, sahabat masa kecilnya, tersenyum sambil menyelipkan rokok di telinga.

“Arwah pun perlu rumah,” jawab Janu pelan.

Laman tertawa kecil. “Kau ini, Janu. Baru pulang dari kota, sudah bicara seperti tembawang yang kesepian.”

Janu mendengus. “Di kota, aku kehilangan bahasa. Di sini, aku kehilangan rumah.”

Mereka duduk di batang kayu tumbang. Matahari perlahan tenggelam, menyisakan cahaya jingga di langit.

“Dulu,” kata Janu, “aku tidur di dekat tiang utama. Nenek bilang, tiang itu adalah tulang punggung kampung.”

Laman mengangguk. “Orang tua bilang, rumah Radakng bukan sekadar papan dan atap. Ia cara kita mengingat siapa diri kita.”

“Lalu kenapa kita biarkan ia hilang?” suara Janu meninggi.

Laman mengangkat bahu. “Karena perut juga punya suara. Kadang lebih keras dari ingatan.”

Tak lama kemudian, Uwak Ranggun datang dengan tongkat kayunya. Rambut putihnya seperti kabut pagi, matanya tajam tapi hangat.

“Kalian bicara soal rumah?” tanyanya.

“Rumah yang tak lagi ada,” jawab Janu.

Uwak Ranggun duduk perlahan. “Rumah tidak pernah pergi. Yang pergi itu keberanian untuk tinggal.”

Janu menatapnya. “Uwak, aku pergi ke kota untuk belajar. Tapi pulang-pulang, aku seperti tamu di tanah sendiri.”

Uwak Ranggun tersenyum tipis. “Anak sungai yang jauh berenang, kadang lupa bau lumpurnya.”

Laman tertawa. “Uwak, Janu ini pintar tapi rapuh. Sedikit saja disentuh kenangan, langsung bocor.”

“Diam kau,” sahut Janu, tapi sudut bibirnya ikut terangkat.

Sunyi menyelimuti mereka sejenak. Dari kejauhan terdengar tawa anak-anak bermain.

“Apa gunanya rumah panjang,” Janu melanjutkan, “kalau kita sekarang hidup terpisah-pisah? Pintu ditutup, cerita dikunci.”

Uwak Ranggun mengetuk tanah dengan tongkatnya. “Filsafat Dayak tidak bertanya di mana kau tinggal, tapi dengan siapa kau berbagi.”

“Berbagi apa?” tanya Janu.

“Api, nasi, duka, dan tawa,” jawab Uwak Ranggun. “Tanpa itu, Radakng hanyalah kayu.”

Laman menyela, “Tapi tetap saja, Uwak, tanpa Radakng kami kehilangan tempat berantem rame-rame.”

Mereka tertawa kecil.

Tiba-tiba, suara langkah cepat terdengar. Lina, adik perempuan Janu, datang dengan wajah tegang.

“Kau datang tapi tak mampir ke rumah ibu?” katanya tajam.

Janu berdiri. “Aku ke sini dulu.”

“Ke rumah yang sudah mati?” Lina menyindir.

Kata-kata itu menusuk. “Rumah ini tidak mati,” jawab Janu. “Yang mati itu kepedulian.”

“Jangan sok suci,” bentak Lina. “Kau pergi bertahun-tahun. Ibu sakit, aku yang jaga. Kau pulang membawa kata-kata.”

Suasana menegang. Laman meneguk ludah. “Eh, jangan berantem di bekas Radakng. Arwah bisa pusing.”

“Diam kau!” kata Lina dan Janu bersamaan.

Uwak Ranggun menghela napas panjang. “Kalian tahu kenapa leluhur membangun Radakng panjang?”

Tak ada yang menjawab.

“Supaya konflik tidak sembunyi di kamar. Semua terlihat, semua diselesaikan.”

Lina menunduk. “Aku marah karena merasa sendirian.”

Janu melembut. “Aku pulang karena merasa kehilangan.”

Sunyi kembali hadir, kali ini lebih jujur.

“Rumah Radakng memang hilang,” kata Uwak Ranggun pelan, “tapi ia bisa hidup di cara kalian saling menjaga.”

Laman tersenyum nakal. “Berarti kita bikin Radakng versi mulut. Panjang di gosip.”

Lina tertawa, mengusap air matanya. “Kau ini, Lam.”

Janu menatap langit yang mulai gelap. “Aku ingin anak-anak nanti tahu bahwa kami pernah hidup bersama, bukan hanya berdampingan.”

Uwak Ranggun berdiri. “Maka ceritakan. Karena rumah bisa roboh, tapi cerita, jika dijaga, akan selalu berdiri.”

Angin malam menyapu tanah bekas Radakng. Janu menutup mata. Dalam dadanya, sebuah rumah panjang berdiri kembali, bukan dari kayu ulin, tapi dari ingatan, konflik, tawa, dan cinta yang tak selesai namun terus diperjuangkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak pulang, ia merasa tidak sepenuhnya kehilangan.(*)

LihatTutupKomentar
Cancel