Di Ujung Doa yang Terkubur

[Foto: Ilustrasi/Freepik]
Di sebuah rumah sederhana yang terletak tak
jauh dari Sungai Kapuas, keluarga Salim menjalani hari-hari mereka dengan
perasaan penuh keraguan. Mereka adalah keluarga Katolik yang sudah lama
merasakan kelelahan dalam menjalani kehidupan yang penuh cobaan. Salim, sang
kepala keluarga, bekerja sebagai pegawai di sebuah kantor pemerintahan.
Istrinya, Maria, seorang guru di sekolah dasar. Meski pekerjaan mereka tak
begitu berat, mereka merasa hidup mereka mulai kehilangan arah.
Pagi itu, Salim duduk di meja makan, menatap secangkir kopi yang sudah dingin. Maria, yang sedang menyiapkan sarapan, tampak khusyuk dalam pekerjaannya, meski raut wajahnya menunjukkan bahwa pikirannya melayang jauh. Anak mereka, Rafael, yang baru berusia 15 tahun, duduk di sudut meja dengan ponsel di tangan, tampak sibuk dengan dunia maya.
“Rafael!” seru Maria, sedikit kesal. “Kamu makan dulu, tidak usah terlalu sibuk dengan itu.”
Rafael mengangkat wajahnya, sedikit terkejut, lalu meletakkan ponselnya. “Maaf, Ma. Tadi ada pesan dari teman.”
Salim menghela napas, mencoba memecah ketegangan pagi itu. “Kamu tahu, Raf, hidup itu bukan cuma tentang teman dan ponsel. Ada banyak hal yang lebih penting, seperti keluarga dan doa.”
Rafael mengangguk tanpa ekspresi, sambil mengambil sendok makan. Maria menatap suaminya. “Kamu tidak perlu menggurui anak kita, Salim. Dia cuma remaja.”
Salim menyandarkan tubuhnya pada kursi, mencoba tetap tenang. “Aku cuma merasa... kita semakin jauh dari yang seharusnya, Ma. Kita bukan cuma keluarga yang tinggal bersama di rumah ini, tapi kita juga seharusnya menjadi keluarga yang saling mendukung dalam iman.”
Maria berhenti sejenak, menatap Salim dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku tahu, Salim. Tapi bagaimana kita bisa tetap percaya kalau semuanya terasa begitu gelap?”
Suasana menjadi sunyi sejenak. Rafael, yang merasa canggung, mulai meraih ponselnya lagi. Namun, Salim dengan cepat menaruh tangan di atas meja, memberi isyarat agar anaknya berhenti.
“Ini bukan soal pekerjaan atau uang,” lanjut Salim dengan suara lebih rendah.
“Tapi tentang bagaimana kita tetap teguh di dalam iman. Aku tahu kita menghadapi banyak tantangan. Aku pun merasa gelisah kadang-kadang. Tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan ketika kita merasa Dia tidak ada.”
Maria menunduk, kemudian mengangkat wajahnya dan berkata dengan suara lembut, “Aku tidak tahu lagi, Salim. Aku merasa seperti doa-doa kita hanyalah sekadar kata-kata kosong. Kadang aku bertanya-tanya, apakah Tuhan mendengarnya.”
Salim mendekatkan diri ke Maria, menggenggam tangannya. “Tuhan selalu mendengar. Bahkan di saat-saat gelap seperti ini, Dia tetap bersama kita. Coba lihat, Ma, kita masih punya satu sama lain. Kita masih bisa berdoa bersama, seperti dulu. Itu yang membuat kita kuat. Bahkan ketika segalanya terasa hampa.”
Rafael menatap mereka berdua, tidak bisa tidak mendengar percakapan ini. Ia merasa cemas melihat betapa retaknya hubungan kedua orang tuanya. Tapi ia juga merasa bingung. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengingat kata-kata terakhir ayahnya tentang doa.
“Apakah kita bisa berdoa bersama malam ini?” tanya Rafael pelan, melirik ke kedua orang tuanya.
Salim dan Maria terdiam sejenak, sebelum Salim mengangguk. “Tentu, Ras. Mari kita berdoa bersama. Mungkin itu yang kita butuhkan. Tuhan tidak pernah menginginkan kita merasa sendirian.”
Malam itu, di ruang tamu rumah mereka yang sederhana, Salim, Maria, dan Rafael duduk bersama di lantai, di bawah cahaya lampu yang redup. Mereka memegang tangan satu sama lain.
“Bapa kami yang ada di surga,” Salim memulai doa mereka, suara rendah namun penuh keyakinan. “Tolong beri kami kekuatan untuk melewati semua cobaan hidup ini. Kami tahu kami tidak sempurna, tapi kami ingin selalu dekat dengan-Mu.”
Maria mengikuti dengan suara yang lembut namun terbata-bata. “Berkatilah kami, Tuhan. Berikan kami kedamaian, dan tunjukkan jalan keluar dari kegelapan ini.”
Rafael mengangguk pelan, meski hatinya masih penuh keraguan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasa sedikit lebih tenang. Doa itu, meski terasa sederhana, memberi rasa harapan yang tak terucapkan.
Esoknya, di pinggir Sungai Kapuas, Salim dan Maria berjalan berdua.
“Apakah kamu merasa lebih baik, Ma?” tanya Salim.
Maria menatap sungai yang mengalir pelan. “Aku tidak tahu. Rasanya seperti doa kita kemarin memberi aku sedikit kedamaian. Mungkin kita memang harus lebih sering berdoa bersama.”
Salim tersenyum kecil. “Kehidupan ini tidak akan selalu mudah, Ma. Tapi kita punya Tuhan, dan kita punya satu sama lain. Itu cukup untuk membuat kita terus maju.”
Maria merangkul suaminya. “Aku percaya, Salim. Meskipun kadang aku merasa goyah, aku tahu kita masih bisa berjuang bersama.”
Seiring waktu, keluarga Salim mulai menemukan kedamaian mereka kembali. Mereka berusaha untuk lebih memperdalam iman dan menjaga hubungan mereka dengan Tuhan dan satu sama lain. Meskipun hidup tidak selalu mudah, mereka belajar bahwa dalam setiap tantangan, doa dan kebersamaan adalah kunci untuk mengatasi segala kegelisahan.
Rafael, yang kini mulai dewasa, mengerti bahwa hidup memang penuh dengan ujian. Namun, ia juga belajar bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang datang dari dalam diri mereka, dari Tuhan, dan dari keluarga yang saling mendukung. Mereka semua belajar bahwa hidup tidak hanya tentang keberhasilan materi, tetapi juga tentang bagaimana menjalani hidup dengan iman, kasih, dan pengharapan.(*)
