Perjalanan Menuju Betlehem Hati

[Foto: Freepik/@pikisuperstar]
Gerimis tipis menyelimuti pelataran Katedral
Santo Yosep Pontianak. Cahaya lampu jalanan memantul di aspal basah,
menciptakan siluet megah bangunan bergaya neo-gotik itu. Di sebuah bangku kayu
di taman doa, tak jauh dari patung Bunda Maria, dua orang pria duduk berhadapan
dengan secangkir kopi plastik yang sudah mendingin.
"Kau masih marah padanya, Anton?" tanya Pak Andreas, seorang katekis tua yang rambutnya sudah memutih seperti kapas.
Anton, pria berusia tiga puluhan dengan wajah yang kaku oleh kekecewaan, hanya menatap nanar ke arah ujung sepatunya. "Ini bukan soal marah, Pak De. Ini soal luka. Dia pergi saat Ibu sakratulmaut. Sekarang dia pulang dengan wajah tanpa dosa, meminta saya membiayai pengobatannya? Di mana keadilan Tuhan?"
Anton bicara tentang Frans, kakaknya yang bertahun-tahun menghilang setelah membawa lari tabungan keluarga, dan kini kembali ke Pontianak dalam kondisi digerogoti penyakit paru-paru kronis.
"Keadilan Tuhan itu tidak seperti matematika, Anton," jawab Pak Andreas lembut. "Kalau matematika, satu tambah satu adalah dua. Tapi dalam iman kita, satu pengampunan ditambah satu kasih, hasilnya adalah kehidupan baru. Transeamus."
"Lagi-lagi bahasa Latin itu," dengus Anton. Ia teringat masa kecilnya di lingkungan Paroki Jeruju, saat mereka sering berlatih koor Natal. "Paman selalu bilang itu setiap kali ada masalah."
Pak Andreas terkekeh, suaranya parau namun hangat. "Karena itu intinya, Ton. Transeamus usque Bethlehem. Mari kita pergi ke Betlehem. Betlehem itu bukan sekadar kota di Palestina sana. Betlehem adalah tempat di mana kerendahan hati lahir. Kau tidak bisa sampai ke sana kalau kau tetap diam di tepi sungai kebencianmu. Kau harus menyeberang."
"Menyeberang itu berat kalau arusnya seperti Sungai Kapuas saat pasang, Pak De," balas Anton dengan nada getir. "Paman tidak tahu betapa hancurnya saya menjaga Ibu sendirian."
Pak Andreas terdiam sejenak. Ia mengambil ubi goreng yang mulai lembek dari kantong plastik di antara mereka. "Makan ini dulu. Kau ini kalau lapar, wajahmu lebih seram daripada patung gargoyle di atas katedral itu."
Anton tertegun, lalu tersenyum tipis. "Paman bisa saja bercanda di saat seperti ini."
"Hidup ini kalau tidak ditertawakan sedikit, akan terasa seperti masa Prapaskah yang tidak ada ujungnya," gurau Pak Andreas. "Kau tahu, Frans kemarin datang ke pastoran. Dia menangis. Katanya, dia lebih takut pada tatapan matamu daripada api pencucian. Dia bilang, 'Anton itu orang suci, Pak De. Makanya saya tidak layak melihat wajahnya'."
"Dia bilang begitu?" Anton mendongak.
"Iya. Lalu aku jawab, 'Frans, Anton itu bukan orang suci. Dia cuma keras kepala seperti kerbau di sawah. Tapi hatinya itu emas, cuma tertutup lumpur sakit hati saja'." Pak Andreas tertawa lebar, membuat Anton akhirnya ikut tertawa meski matanya berkaca-kaca.
"Sialan Paman ini. Saya dibilang kerbau," umpat Anton pelan sambil menyeka sudut matanya.
"Nah, begini kan enak. Wajahmu jadi mirip wajah anak domba lagi," canda Pak Andreas. Namun, wajahnya kembali serius. "Anton, dengar. Dalam teologi kita, keselamatan itu adalah sebuah perjalanan dari diri yang egois menuju kasih yang total. Itulah transisi. Itulah Transeamus."
"Paman ingin saya menerima dia kembali?"
"Aku ingin kau membebaskan dirimu sendiri. Membenci itu seperti meminum racun tapi mengharap orang lain yang mati. Kristus tidak turun ke dunia untuk menghukum kita yang berdosa, tapi untuk menyeberangi jurang antara manusia dan Allah. Dia menyeberang dengan jembatan salib. Sekarang, jembatanmu adalah pengampunan."
Anton menatap kubah Katedral yang menjulang. Di Pontianak ini, sungai adalah urat nadi. Menyeberang dari Pontianak Kota ke Siantan adalah rutinitas. Tapi menyeberang dari benci ke cinta terasa seperti melintasi samudera tanpa kompas.
"Besok adalah hari Minggu," lanjut Pak Andreas. "Frans akan ada di bangku paling belakang saat Misa pagi. Dia malu untuk maju ke depan. Dia merasa kotor. Pergilah ke sana. Tidak perlu bicara banyak. Cukup duduk di sampingnya. Biarkan dia tahu bahwa dia punya tempat untuk pulang."
Konflik di dada Anton bergemuruh. Ingatan akan masa sulit beradu dengan bayangan kakaknya yang kurus kering dan batuk-batuk di teras rumah kemarin sore.
"Kalau dia mencuri lagi bagaimana?" tanya Anton, mencoba mencari alasan terakhir untuk bertahan dalam amarahnya.
Pak Andreas berdiri, menepuk debu di celananya. "Kalau dia mencuri lagi, berarti dia masih butuh didoakan lebih banyak. Tapi kalau kau tidak mengampuninya, kaulah yang sedang mencuri. Kau mencuri kesempatan Frans untuk bertobat, dan kau mencuri kedamaian dari hatimu sendiri."
Pak Andreas mulai melangkah pergi, namun ia berbalik sebentar. "Oh ya, satu lagi. Jangan lupa bawa jeruk Pontianak untuknya. Dia bilang dia rindu rasa asam-manis tanah kelahirannya. Dan jangan kau habiskan jeruknya sendirian di jalan, dasar perut kerbau!"
Anton tertawa di tengah tangisnya yang akhirnya pecah. Ia melihat sosok katekis tua itu menghilang di balik gerbang katedral.
***
Keesokan paginya, matahari Pontianak terbit dengan malu-malu di balik awan. Di dalam katedral, bau kemenyan dan melodi organ memenuhi ruangan yang sejuk. Di bangku paling belakang, seorang pria kurus dengan jaket lusuh duduk menunduk, bahunya bergetar menahan batuk dan isak.
Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya. Sebuah tangan yang kuat mendarat di bahu pria kurus itu. Tak ada kata-kata. Hanya sebuah kantong plastik berisi beberapa butir jeruk manis yang diletakkan di antara mereka.
Frans menoleh, matanya merah. Anton hanya menatap lurus ke arah altar, ke arah salib besar yang tergantung di sana.
Transeamus.
Hari itu, Anton menyadari bahwa menyeberangi kemarahan tidak membutuhkan mukjizat air yang terbelah seperti zaman Musa. Ia hanya membutuhkan langkah kaki yang gemetar namun pasti menuju seseorang yang paling sulit untuk dicintai. Di bangku gereja yang keras itu, dua bersaudara itu tidak sedang sekadar menghadiri misa; mereka sedang membangun jembatan di atas sungai masa lalu yang keruh, menuju sebuah Betlehem yang baru di dalam hati mereka masing-masing.
Pengampunan bukanlah tanda bahwa luka telah hilang, melainkan bukti bahwa luka itu tidak lagi berkuasa untuk menghentikan langkah kita menuju kasih.(*)
