Petrina Sepakat Menulis


Pukul 19.30, pada Sabtu, 3 Desember 2016 di Aula Asrama Petrina, Pontianak. Ada 10 orang yang datang: enam laki-laki dan empat perempuan. Mereka adalah mahasiswa dari luar Pontianak yang tinggal di Asrama Petrina dan Sepakat, yang sekarang bernama Asrama Bonaventura.

Kami datang berempat. Ada juga Bruder Kris, ada juga Endi, dan Deo. Dua nama terakhir itu jurnalis Jakarta Post dan Bisnis Indonesia. Endi agak telat datang. Dia harus rehat sejenak karena letih sepulang menjadi guru terbang di Terentang, Tayan.

Bruder Kris membuka dengan doa. Lalu bicara beberapa patah kata soal rencana malam ini. Saya juga bicara sedikit tentang kegiatan yang kemudian kami sebut sebagai menulis kreatif.

Lalu sedikit waktu untuk berkenalan. Seperti kata orang bijak, "tak kenal maka tak sayang." Semua peserta berstatus mahasiswa. Ada yang kuliah di Universitas Tanjungpura, Widya Dharma, dan Politeknik Tonggak Equator.

Endi memberikan gambaran tentang program yang akan berlangsung. "Ini bentuk kepedulian kami kepada kaum muda agar mau menulis sesuai kaidah jurnalistik," katanya.

Lalu ada dialog sedikit. Beberapa cukup aktif bertanya. Ada yang bertanya tentang menulis menjadi pilihan hidup. Ada juga yang bertanya bagaimana memulai sebuah tulisan. Pertanyaan ini kami jawab dengan, "segala sesuatu harus dilakukan karena kita menyenanginya."

Sabtu malam itu, kami, terutama yang suka menonton sepakbola, berkorban untuk menjauh dari hingar bingarnya. Indonesia melawan Vietnam berseteru pada laga pertama semifinal piala AFF 2016. Bersyukur, Indonesia menang dengan skor 2-1.

Malam itu, kami bubar setengah jam sebelum el classico antara Barcelona dan Real Madrid digelar. Sehingga masih bisa nonton kehebatan para pengolah kulit bundar.

Ah, cukuplah. Tak ada kopi yang bisa kuseruput pagi ini.

Pontianak, 4 Desember 2016
Budi Miank
LihatTutupKomentar