Izinkan Aku Panggil Kamu Sayang

Tak perlu kau menjadi kunang-kunang bagiku. Tetaplah menjadi orang yang membuatku merindu. Tetap juga menjadikan aku sebagai kekasih hatimu. Jangan hanya memanggilku  sayang satu kali saja. Tetaplah membuka ruang bagiku di hatimu.  Sebelum kamu benar-benar pergi, aku ingin menemuimu sekali lagi. Aku ingin mengucapkan satu kalimat untukmu. Tetapi malam itu kau membuatku resah. Handphonemu tak diangkat. Pesan singkatku tak berbalas. Aku menghempaskan diri di kasur yang memang sudah tak empuk lagi. 


Aku galau. Aku semakin ragu, apa benar kau mencintaiku. Pada malam yang sembab itu kau tersudut di ujung rindu. Kamu yang ingin kutemui tak bisa memberi jawab. Kau telah berhasil membuatku gelisah. Kau mengundahgulanakan hati yang terlanjur jatuh cinta padamu, sejak kali pertama bertemu di dermaga kayu itu. 

Entah mengapa malam ini, tiba-tiba aku merasa perlu menemuimu. Aku takut kehilangan dirimu. Aku tak ingin kehilangan cintamu. Tak mudah melepaskan apa yang telah kuperjuangkan dengan susah payah. Kamu adalah kekasih yang telah memanjatkan harapan pada setangkup cinta pada senja itu. 

Jika kamu takut, cintai saja aku dalam hatimu. Cintai juga aku dengan rasa dan logikamu. Aku ada untukmu, jika itu yang kamu mau. Itu katamu padaku ketika kita bertemu selepas senja kemarin. Kau berusaha menguatkan hatiku. Kau sepertinya tahu, aku membutuhkanmu saat ini. Kau juga tahu kalau aku tak ingin kehilangan. Kau berusaha menghiburku. Kau paham kalau aku suka sesuatu yang romantis. Kau peluk aku yang sedari tadi bersandar di pundakmu. Tetapi aku cepat menarik diri. Aku menyadari tak mungkin bisa memilikimu sekarang ini. Perlu waktu untuk menaklukan hatimu.

Aku tidak mungkin bisa mencintaimu. Bantu aku kembali ke masa di mana kamu dan aku tidak saling bertemu, karena bagiku perasaan itu sangat menyakitkan. Sulit bagiku untuk mengembalikan perasaan yang dulu, yang pernah kita pertemukan bersama.

Kamu bilang aku egois. Kamu biarkan aku merasakannya sendiri. Kamu membiarkan aku mengakui setiap inci perasaanku padamu. Sementara kamu tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku. Kau menghujaniku dengan beragam pernyataan sekaligus pertanyaan. Aku hanya diam mendengar apa yang kamu katakan. Aku tak ingin mendebatmu. Aku hanya ingin memandang teduh matamu saja. Itu cukup bagiku menjawab semua pertanyaanmu tadi.

Melihat aku diam, kau pun ikut diam. Bahkan kamu tak lagi berkata-kata. Aku paham kalau kamu sedang menata kegelisahan. Aku tak ingin melihatmu menangis. Terlalu kejam bagiku jika sampai air matamu jatuh. Aku akan merasa sangat bersalah, bila hal itu terjadi. 

Aku merindu karena itu aku menemuimu. Aku mencintaimu karena itu aku mengingatmu. Aku mungkin tak pernah berucap kata cinta, tetap apakah usahaku untuk selalu menemuimu bermakna keegoisan. Entahlah, katamu kemudian, yang jelas aku tak mau hanya menjadi kunang-kunangmu di waktu malamu menjadi gelap. Karena, aku juga tidak tahu apakah di antara beribu kunang-kunangmu itu aku termasuk yang terang. 

Tak perlu kau menjadi kunang-kunang bagiku. Tetaplah menjadi orang yang membuatku merindu. Tetap juga menjadikan aku sebagai kekasih hatimu. Jangan hanya memanggilku sayang satu kali saja. Tetaplah membuka ruang bagiku di hatimu.  

Budi Miank | 311216
LihatTutupKomentar